Membentuk Gamada yang Bermoral dan Berwawasan Pertanian

Hari kedua pelaksanaan PPSMB Organik 2017 (10/8) berlangsung dengan lancar. Kegiatan diawali dengan apel pagi di halaman Gedung Rachmiwaty. Apel pagi dipimpin oleh, Urwah Adurrahman, yang menegaskan bahwa mahasiswa dan pemuda saat ini harus memiliki semangat dan tekad yang kuat seperti para pahlawan pada saat memperjuangkan bangsa Indonesia. Pada hari kedua, masih saja terdapat Gamada yang terlambat.

Kegiatan dilanjutkan di Auditorium dengan diawali penampilan dari inagurasi, selanjutnya pukul 08.00 acara disusul dengan pemamaparan materi pertama yang bertema “Landasan Moral, disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Edhi Martono, M.Sc.  dengan subtema “Membangkitkan dan membina wawasan pertanian”. Seperti yang kita ketahui, bahwa mahasiswa saat ini masih belum bisa menangkap dan memahami mengenai permasalahan dari semua aspek pertanian, mereka masih terpaku pada jurusan mereka masing-masing. Pemahaman permasalahan mengenai pertanian sangat diperlukan guna menyelesaikan permasalahan pertanian. Kesejahteraan masyarakat sendiri masih sangat minim dan sangat menyedihkan, karena para mahasiswa sarjana saat ini masih lebih mementingkan dan memusatkan perhatiannya untuk kesejahteraan diri sendiri. Prof. Edhi mengatakan bahwa cara agar mahasiswa pertanian dapat berpegang teguh terhadap komitmen sebagai mahasiswa pertanian adalah dengan mengenali dengan baik terhadap apa yang ia pelajari. Jika minat itu telah ditekuni dengan baik, komitmen pun akan muncul. Gamada pertanian diharapkan dapat memegang komitmen untuk menjadi mahasiswa pertanian dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena mereka telah terpilih dari sekian juta lulusan SMA lainnya. Dengan begitu, mereka dapat menjadi serius dibidang pertanian dan tidak akan merasa salah jurusan.

Pak Edhi saat memaparkan materi (Primordia/Nida)

Materi kedua adalah sosok Inspiratif Pertanian dan Perikanan yang disampaikan oleh Sigit Kusuma Wijaya, pendiri Indonesia Berkebun. Sigit mengawali karirnya sebagai arsitektur di bidang perkotaan. Ia tertarik di bidang pertanian karena dalam teori perkotaan terdapat tuntutan untuk menyisihkan ruang atau lahan hijau yang berasal dari lahan tidak terpakai, lahan sisa dan terlantar. Lahan-lahan tersebut diubah menjadi lahan produktif dimana nantinya dapat ditanami tanaman-tanaman yang bermanfaat yang bisa dikonsumsi. Karena ketertarikannya, Sigit bersama dengan salah seorang inisiator lainnya yaitu Ridwan Kamil, mendirikan sebuah komunitas bernama Indonesia Berkebun yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat perkotaan agar dapat menerapkan di rumah masing-masing. Indonesia Berkebun memiliki program Akademi Berkebun dimana akan ada proses pelatihan berkebun mulai dari cara menanam hingga memanen. Lewat komunitas ini, masyarakat dituntut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Awalnya tanggapan masyarakat lumayan sulit, tetapi dengan menggunakan sosial media penyebaran informasinya semakin viral dan menjadi trend. Masyarakat menjadi semakin terinspirasi dengan adanya media dan sponsor. Akhir-akhir ini masyarakat kota semakin mengerti pentingnya hidup sehat, sehingga saat ini Indonesia Berkebun memiliki jejaring yang tersebar di 9 kampus dan 36 kota di seluruh Indonesia, dari Jakarta hingga Papua. Menurutnya, Indonesia masih sangat berpotensi untuk pengembangan dunia pertanian meskipun dengan adanya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk yang tidak merata dan terlalu cepat sehingga akan mengancam lahan pertanian.

Sigit saat diwawancarai reporter (Primordia/Restu)

Selanjutnya, sosok inspiratif yang kedua yaitu Faris Budi dan Aang Permana (owner Crispy Ikan Sipetek). Crispy Ikan Sipetek merupakan salah satu usaha di bidang perikanan yang terletak di Jawa Barat. Usaha tersebut digagas oleh salah seorang alumni UGM, Faris Budi dan alumni IPB, Aang Permana. Awal mula terbentuknya usaha tersebut dikarenakan mereka melihat ikan petek atau ikan kaca-kaca yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat karena dianggap sebagai hama ikan lainnya, padahal kandungan ikan tersebut tidak kalah bergizi dibanding dengan ikan nila dan ikan bawal. Ikan petek yang berukuran kecil ini dinilai merugikan ikan lainnya, sehingga Faris dan kawan-kawan memanfaatkan ikan tersebut dengan cara digoreng crispy, karena masyarakat cukup pesimis untuk memanfaatkan ikan petek ini. Bagian tubuh ikan petek tidak ada yang dibuang sedikitpun, murni 100% dimanfatkan karena kandungannya yang sangat baik sehingga penghasilan pun bisa lebih optimal. Untuk saat ini pemasaran sudah tersebar dari Aceh hingga Papua. Omset yang sangat menjanjikan dari hasil tersebut membuat antusias masyarakat semakin meningkat.

Faris saat diwawancarai reporter (Primordia/Restu)

Menurut Faris, “Kalau mau memulai usaha yang terpenting harus mempunyai visi dan tekad yang kuat. Jangan takut gagal dan rugi. Selain itu harus mempunyai komunitas sebagai penguat motivasi, siapa tau ada yang lebih rugi dari kita kan paling tidak harus bersyukur dan terus semangat, bukannya malah nyerah.” Lika-liku berwirausaha yang dijalani Faris cukup menginspirasi sehingga ia dan rekannya bisa sukses saat ini.  Namun ada hal yang membuatnya kecewa terhadap lulusan pertanian dan perikanan di Indonesia, khususnya UGM, karena ia menganggap lulusan Perikanan dan Pertanian di UGM tidak memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama kuliah. “Saya jarang sekali menemukan lulusan UGM bergerak di bidang Pertanian dan Perikanan biasanya malah beralih ke bidang lain, kan sayang ilmunya mubadzir”, tambahnya. Ia berharap bidang pertanian dan perikanan bukan lagi menjadi batu loncatan mencari peluang.

Materi ketiga dan terakhir, menutup sesi pemberian materi dari PPSMB Organik 2017 disampaikan oleh Eko Prasetyo dengan tema “Membangun Gerakan Sosial”. Eko menekankan betapa pentingnya sifat kepedulian untuk dimiliki oleh mahasiswa karena mahasiswa merupakan harapan baru yang dapat membawa perubahan. Sifat kepedulian sendiri memang merupakan sifat yang khas, apalagi untuk mahasiswa Fakultas Pertanian. “Tidak perlu malu belajar di Fakultas Pertanian karena bidang pertanian adalah dasar dari belajar kedaulatan bagi rakyat”, tegasnya untuk memberi semangat kepada Gamada PPSMB Organik 2017. “Bidang pertanian, terutama lapangan pekerjaannya selalu memihak rakyat, butuh kepedulian yang tinggi karena bersekutu dengan ‘mereka’ yang lemah”, lanjutnya.

Rasa kepedulian dapat diperoleh ketika menjadi mahasiswa seperti saat ini, masa kuliah adalah waktu terbaik karena banyaknya organisasi yang  bisa menampung pemikiran mahasiswa. Menurutnya, hal yang menjadi penghambat tumbuhnya rasa kepedulian pada “generasi Z” ialah lebih terbukanya pemikiran dan akses informasi yang mereka miliki. Hal tersebut sebenarnya dapat dengan mudah dicegah dengan menanamkan nasihat-nasihat dengan cara non-doktrin. “Tipikal generasi masa kini sebenarnya mudah dipengaruhi pemikirannya, yang penting dengan cara yang lebih menarik. Namun, sayangnya lingkungan sekarang lebih banyak hal negatifnya,” jelasnya.

Pak Eko saat diwawancarai reporter (Primordia/Ipul)

Setelah pemaparan materi terakhir, dilanjutkan dengan FGD (Focus Group Discussion) diawali dengan tampilan video sebagai pemantik bahan diskusi bagi Gamada 2017. Ridho Gunawan dan Fatiya Khoiru Izzati memimpin jalannya FGD, mereka memaparkan beberapa masalah terkait dengan pertanian dan perikanan yang kemudian ditanggapi oleh para Gamada dengan antusias. Beberapa Gamada 2017 menceritakan permasalahan yang ada pada daerah mereka masing-masing. Focus Group Discussion ini dilaksanakan di berbagai titik di area Fakultas Pertanian. Para Gamada berpencar sesuai dengan kelompok kepemanduan mereka. Dengan dipandu oleh masing masing pemandu disetiap kelompoknya, mereka mengutarakan pendapat yang mereka miliki. Menurut Safiyra Dina selaku staff Divisi Aksi Kreatif, sejauh ini Gamada 2017 aktif dalam memberikan pendapat ataupun tanggapan dalam diskusi tersebut.

Gamada sedang melaksanakan FGD (Primordia/Yusuf)

Diskusi berjalan selama 40 menit, setiap kelompok harus memberikan solusi terhadap permasalahan mengenai pertanian dan perikanan. Solusi dari seluruh kelompok kemudian di utarakan dalam forum yang berlangsung di dalam Auditorium dan dikumpulkan oleh panitia yang akan didiskusikan lebih lanjut dengan perwakilan setiap kelompok. Salah satu perwakilan dari Gamada menandatangani kesepakatan untuk melakukan aksi nyata yang akan didiskusikan lebih lanjut setelah PPSMB Organik usai. Penutupan PPSMB Organik hari kedua dimeriahkan dengan adanya penampilan video dari persiapan panitia hingga acara PPSMB Organik hari pertama yang berlangsung kemarin.

Reporter          : Karina, Rizka, Titan, Yusuf, Nafis, Akbar, Dinda

Fotografer       : Esti, Nida, Titan, Ipul, Restu

Editor              : Djuki, Royanda

Layouter          : Anggit, Puti