Menilik PPSMB 2017 : Cendekia Muda Palapa Harapan Bangsa

Mahasiswa baru sedang berlarian menuju Lapangan Pancasila (Primordia/Ipul)

Rangkaian acara PPSMB Palapa 2017 resmi ditutup oleh Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng pada Sabtu, 12 Agustus 2017. Acara PPSMB Palapa 2017 ini meninggalkan berbagai kisah bagi Gamada 2017. Tak dipungkiri, PPSMB Palapa menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap piranti yang turut serta dalam menyukseskan PPSMB Palapa 2017. Wakil Ketua Pelaksana PPSMB Palapa 2017, Dr. drh. R. Gagak DS, M.P., M.Pd, bersyukur atas pelaksanaan PPSMB Palapa tahun ini yang dinilai berjalan dengan lancar. Gamada yang sakit tidak terlalu banyak, semua ceria dan tujuan-tujuan PPSMB Palapa 2017 relatif tercapai secara umum. Antusiasme Gamada terlihat sangat besar walaupun diawal acara Gamada terlihat kurang antusias. Keadaan berubah setelah dilaksanakannya softskill tentang pentingnya antusiasme, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Gagak selaku Wakil Ketua Pelaksana PPSMB 2017 saat diwawancarai oleh tim (Primordia/Sekar)

Dari segi keamanan, PPSMB dirasa sudah berjalan dengan tertib. UGM bekerja sama dengan polisi, namun untuk keamanan sendiri tidak ada yang khusus karena sudah menjadi hal yang rutin untuk dilakukan pengamanan. Dari segi medis juga tidak ada kendala yang berarti. Obat-obatan untuk PPSMB Palapa tahun ini tersedia dari sebelum PPSMB hingga upacara penutupan (12/8). Menurut Faza (Staff Medis), sistem yang digunakan untuk persediaan obat yaitu dilakukan refill obat tiap hari nya, dengan adanya form obat keluar. Pemberian obat dilakukan dengan cara tiap obat sudah dibungkus satu-satu dari awal dan sudah diplot-plot. Selama PPSMB berlangsung, kebanyakan dari mahasiswa mengalami pingsan namun tidak ada Gamada yang sakit parah dan kambuh.

Persiapan

Kesuksesan dari PPSMB Palapa tidak terlepas dari perjuangan dan kerjasama yang erat dari setiap elemen panitia PPSMB baik antar mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosen untuk menyiapkan acara yang matang. Persiapan PPSMB Palapa ini sudah dilakukan sejak bulan Januari dengan membentuk tim kecil, yang dilanjutkan pada bulan Februari mulai terbentuknya panitia yang terdiri dari mahasiswa. Tim kecil yang sudah terbentuk sejak bulan Januari tersebut merupakan Tim Palapa yang notabene berasal dari panitia Palapa tahun lalu. Kemudian dibentuklah Tim Palapa baru dengan semua unsur-unsur Ormawa dari sisi mahasiswa dan dari sisi dosen, karyawan, serta teknis UGM yang terdiri dari Ditmawa sebagai koordinatornya. Pelaksanaan rapat persiapan PPSMB Palapa ini dilakukan hampir setiap hari dan bersama-sama dengan mahasiswa.

Rohmat, staff PKM/panitia dosen saat di wawancarai oleh tim (Primordia/Sekar)

Demi kelancaran dan kesuksesan PPSMB Palapa 2017, panitia dosen (selanjutnya disebut Task Force) dan mahasiswa saling berkoordinasi dengan baik. PPSMB Palapa kali ini diyakini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya jika dilihat dari segi materi yang diangkat. Pada tahun ini terdapat tambahan materi yaitu tentang Narkotika yang disampaikan oleh BNN, kemudian selain materi terdapat juga tim pemantau yang berasal dari dosen magang se-Indonesia. Tema yang diusung tahun ini, “Dari UGM Untuk Indonesia” merupakan ide dari panitia mahasiswa, sedangkan tim Task Force hanya memfasilitasi demi berlangsungnya PPSMB. Menurut penuturan Gagak, Wakil Ketua Pelaksana, PPSMB tahun ini terdiri dari 119 pengawas atau pemantau, di mana terdiri dari unsur 49 orang mahasiswa, 19 orang dosen eksternal, 4 atau 5 orang masyarakat, serta sisa diantaranya yaitu dosen dan teknis UGM. Pemilihan tim pengawas tersebut dilakukan dengan sistem Open Recruitment. Unsur masyarakat berasal dari orang tua atau yang masih memiliki saudara di UGM. Selain itu, ada dosen dari beberapa aktivis kemahasiswaan. Dengan adanya tim pemantau, panitia akan bekerja sangat konsisten dengan waktu. “Bagi saya proses pembelajaran awal di UGM mestinya berhasil secara interdisipliner,” ujar Rohmat, panitia dosen dari staff PKM.

Arjuna di Tengah Gamada

Penutupan PPSMB 2017 menyuguhkan pemandangan yang tidak biasa. Sejak Gamada sibuk berkumpul, para anggota tim mobil listrik UGM juga sibuk men-display hasil karya mereka yaitu mobil listrik yang diberi nama Arjuna. Awal pembentukan Arjuna itu sendiri dicetuskan oleh para mahasiswa Teknik Mesin UGM  pada sekitar tahun 2010-2011, pada saat itu para mahasiswa hanya membuat sebuah mobil listrik saja tanpa diberi nama. Namun, selang beberapa bulan setelah mobil listrik itu telah selesai, para anggota tim dari mahasiswa Teknik Mesin tersebut mengalami vacuum. Tidak diketahui pula alasan mengapa mobil listrik tersebut mengalami vacuum. Hingga pada tahun 2013, mereka kembali bangkit dan  mulai menekuni serta mengikuti beberapa kompetisi, pada tahun itu pula tercetuslah nama Arjuna. Anggota tim teknis dari Arjuna itu sendiri di dominasi para mahasiswa jurusan Elektronika dan Instrumentasi serta jurusan Teknik Mesin, sedangkan anggota tim dari non-teknis bisa dari semua jurusan. Arjuna menjadi mobil listrik pertama yang akan mewakili Indonesia di ajang Internasional di Jepang pada bulan September 2017 mendatang.

Para anggota tim Arjuna beserta Rektor UGM saat di Lapangan Pancasila (Primordia/Nafis)

Pembuatan mobil listrik Arjuna membutuhkan waktu hingga 8-9 bulan dan menelan biaya hingga 200-500 juta rupiah. Menurut Farid (Teknik Mesin 2013), selaku Kepala Divisi Teknisi, kendala terbesar yang dialami pada saat pembuatan mobil listrik Arjuna itu sendiri yaitu dana. “Kita harus rajin-rajin nyari terus, kadang kita nya udah siap tapi dana belum ada. Jadi kan waktu kita terbuang karena nunggu duit,” ujarnya. Harapan kedepan para anggota tim untuk mobil listrik Arjuna, semoga dapat menampilkan dengan sebaik mungkin pada kompetisi Internasional di Jepang karena ini adalah yang pertama kalinya dan semoga Arjuna menjadi pelopor kendaraan mobil listrik untuk universitas di Indonesia yang lain.

Tidak Terbebani

Mogu, salah satu Co-Fas gugus Kusnadi Hardjasoemantri 4 mengaku bangga menjadi Co-Fas karena telah memperkenalkan dan menjadi pintu gerbang bagi Gamada dalam mengenalan lebih dalam Universitas Gadjah Mada. Persiapan untuk upacara penutupan PPSMB Palapa sendiri dilakukan sejak jauh-jauh hari, dan khusus untuk upacara penutupan, briefing acara dilakukan oleh panitia sejak pukul 2.30 pagi. Namun, hal itu diakui tidak dianggapnya sebagai beban karena reaksi senang dan excited yang diberikan oleh gamada 2017 d

Rian salah satu Gamada yang sedang diwawancarai tim (Primordia/Esti)

alam menyambut upacara penutupan PPSMB PALAPA 2017. Gamada yang mengikuti PPSMB Palapa merasa tidak terbebani dengan adanya kegiatan ini, mereka justru sangat antusias mengikuti PPSMB Palapa. Menurut Mogu, semua Gamada yang dia fasilitasi memilili karakter yang unik, akan tetapi keunikan tersebut tidak menghalangi kekompakan mereka.

Sebelum membentuk formasi, mahasiswa baru terlihat sangat antusias ingin memasuki lapangan Pancasila. Rian, mahasiswa prodi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian 2017, merasa sangat senang karena dapat ikut berpartisipasi dalam PPSMB tahun ini. “Saya sangat senang dapat berpartisipasi di sini, selama ini saya hanya melihat lewat youtube saja,” ujarnya. Rian mengaku penugasan PPSMB yang di dapat cukup sulit dikerjakan, namun ia tetap semangat mengerjakan penugasan tersebut. Ia juga mengaku pernah mengulang mengerjakan salah satu penugasan karena menurut penilain panitia kurang baik.

Harapan Baru

Secara garis besar acara PPSMB Palapa 2017 berjalan dengan sukses dan lancar. Gagak bersyukur atas kelancaran PPSMB tahun ini, “Mudah-mudahan bisa belajar dan semangat selalu yang kita bawa. PPSMB atau mahasiswa baru yang berjiwa Pancasila, yang mengakui ke-Bhineka Tunggal Ika-an, akan melakukan pemikiran-pemikiran dengan cerdas, inspiratif, berbudaya, dan bermanfaat,” tuturnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rohmat yang bersyukur karena PPSMB Palapa tahun ini berjalan dengan lancar, tak lupa Rohmat menyampaikan pesan untuk Gamada “Tekuni apa yang sudah dipilih, saya yakin ketika Anda keluar dari UGM, Anda memiliki karakter dan bekal yang cukup, dari Fakultas mana saja”.

Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri ketika memberikan orasi di panggung (Primordia/Jito)

Pesan khusu juga disampaikan oleh Retno Sari Trihapsari Marsudi, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada, Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Politik. ”Memiliki mimpi yang tinggi awal dari kesuksesan. Bermimpilah setinggi mungkin dan kejarlah mimpi tersebut. Mimpi untuk anda semuanya dan mimpi untuk Indonesia. Mimpimu adalah mimpi Indonesia. Maka gapailah mimpimu. Menggapai mimpi perlu perjuangan, mimpi harus dikejar dengan doa dan usaha penuh dengan energi yang positif,” tuturnya dalam orasi kebangsaan pada penutupuan PPSMB kemarin (12/8). Ia mengharapkan mahasiswa UGM yang dikenal sebagai Universitas Pancasila, mampu memenuhi Indonesia dengan menghormati perbedaan dengan toleransi. Menurutnya, “Indonesia dilahirkan oleh perbedaan, dan perbedaan itu indah. Aku suku Jawa, Aku Indonesia. Aku suku Sunda, Aku Indonesia. Aku orang ambon, Aku Indonesia. Aku orang Papua, Aku Indonesia. Aku Indonesia dan Aku Pancasila!”. Ia berharap mahasiswa harus bangga menjadi Indonesia. Indonesia harus menjadi besar, Indonesia harus Jaya. Untuk menjadikan Indonesia Jaya harus diisi dengan keadilan, bebas korupsi, dan bebas narkoba. Sebagai mahasiswa generasi bangsa, mahasiswa UGM diharapkan menjadi penggerak kejayaan Indonesia. Mahasiswa baru terlihat antusias dengan orasi Retno. Retno berharap kampus UGM sebagai kampus toleransi yang menghargai perbedaan serta kampus bebas narkoba. Kampus UGM diharapkan menjadi kampus kerakyatan berstandar Internasional.

Reporter : Adil, Amel, Anas, Anggit, Dinda, Elia, Ian, Karina, Royanda,  Titan

Fotografer : Jito, Nafis, Sekar, Ipul, Esti

Editor : Anas, Juki